Dalam beberapa bulan ini, dunia sedang mengalami masalah besar akibat kehadiran virus corona. Virus ini terlihat sangat menyeramkan karena kehadirannya sudah seperti malaikat pencabut nyawa yang siap untuk mencabut nyawa siapa pun tampa peduli yang dicabut itu si miskin atau si kaya maupun anak kecil dan orang tua. Beberapa negara sampai rela untuk mengalami kerugian besar dalam aspek ekonomi, asalkan masyarakatnya bisa selamat dari penyebaran virus ini. sehingga berbagai macam cara dilakukan mulai dari menutup akses untuk masuknya negara lain, mengalokasikan anggaran negara dengan jumlah besar untuk penangan virus ini, hingga menyerukan agar masyarakatnya berdiam diri di rumah saja.

Cara tersebut diakui cukup efektif karena mampu menekan jumlah penderita virus corona, bahkan beberapa negara lain sudah mulai terhindar dari penyebaran virus tersebut.

Ketika beberapa negara sudah mulai serius untuk menghadapi penyebaran virus corona, indonesia justru terlihat sangat santai dan menganggap remeh seakan-akan virus ini bukanlah masalah besar buat indonesia. Pernyataan dari menteri perhubungan bahwa indonesia tidak akan terkapar virus corona karena masyarakatnya “doyan makan nasi kuning”, setidaknya mempertegas ketidak seriusan pemerintah untuk melawan virus corona di awal-awal penyebarannya. Tentu sebagai masyarakat yang kapan saja bisa terjangkit virus ini, pasti akan marah dan jengkel melihat kesombongan negara dalam menyikapi penyebaran virus corona.

Virus corona bisa menjadi pembunuh yang sangat sadis, karena siapa pun yang sudah positif terjangkit, sangat kecil kemungkinan untuk bisa sembuh. Setidaknya presentasi yang sembuh dan yang meninggal untuk kasus di Indonesia bisa membenarkan pernyataan diatas. Tentu tidak ada siapa pun manusia di dunia ini yang mau mati karena terkapar virus corona. Virus ini terlalu menyeramkan, karena siapa pun yang mati akibat virus ini, maka tidak ada satu pun keluarganya yang bisa melihatnya lagi. Meskipun kematian adalah sesuatu yang pasti akan dialami oleh semua orang, namun bukanlah kematian seperti itu yang dirindukan oleh banyak orang. Jangankan memandikan, mencium, memeluk ataupun menyolatkan, bahkan melihat jenazah sedikit saja sepertinya tidak akan diizinkan oleh para petugas.

Untuk mereka yang sudah ada tanda-tanda terjangkit virus corona meskipun belum di vonis positif seperti Flu, Demam, Batuk dan lain-lain, itu akan menjadi cerita yang sedikit menjengkelkan untuk hari-hari yang mereka jalani. Dihindari, dijauhi, ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya menjadi pelengkap cerita hidup yang cukup pahit. Dengan bahasa yang sedikit bercanda, mungkin orang-orang akan lebih memilih mendengar bunyi kentut dari pada suara batuk. Ataukah memang inilah era dimana kentut lebih dihargai dari pada batuk.

Namun penyebaran virus ini setidaknya bisa memberikan senyuman bagi sebagian masyarakat yang selama ini selalu pesimis dengan perilaku negara yang terus-menerus mengabaikan kehidupan masyarakat. Negara saat ini terlihat sangat perduli dengan kondisi masyarakat yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Kepedulian itu setiap hari bisa kita Saksikan di berbagai media massa, cetak dan media sosial melalui pidato-pidato para pejabat negara. Entah itu adalah kepedulian yang tulus atau karna terpaksa, siapa saja boleh menafsirkannya. Setidaknya kehadiran negara begitu terasa dengan berbagai cara yang dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

“…pemerintah Indonesia belum punya solusi yang tepat bagaimana menjamin kehidupan masyarakat jika mereka tidak boleh keluar rumah. Tentunya sebagai masyarakat miskin yang kerja hari-hari hanya sebagai buruh, tukang ojek, tukang parkir dan sejenisnya, itu bukanlah solusi yang menggembirakan.”

Di sisi yang lain meskipun ada upaya untuk peduli terhadap masyarakat, pemerintah Indonesia belum punya solusi yang tepat bagaimana menjamin kehidupan masyarakat jika mereka tidak boleh keluar rumah. Tentunya sebagai masyarakat miskin yang kerja hari-hari hanya sebagai buruh, tukang ojek, tukang parkir dan sejenisnya, itu bukanlah solusi yang menggembirakan. justru solusi itu akan berubah menjadi masalah jika penyebaran virus corona memakan waktu berbulan-bulan sedangkan pemerintah tidak mampu menyediakan kebutuhan pokok untuk kehidupan masyarakat miskin.

Ketika masyarakat semakin panik karna korban dari virus corona terus mengalami peningkatan setiap harinya, pemerintah justru ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan pernyataan-pernyataan yang kontroversial. Sebagaimana pernyataan dari juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona tentang “si kaya harus membantu si miskin agar si miskin tidak menularkan penyakitnya ke orang kaya”, semakin memancing amarah masyarakat terhadap penyelenggara merintahan. Melihat berbagai macam kegaduhan yang justru diakibatkan juga oleh pemangku kuasa itu sendiri, sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi masyarakat bahwa di dalam internal pemerintahan Indonesia, masih dihuni oleh orang-orang yang banyak kekurangan akal sehat. Pesan saya agar masyarakat sipil jangan ikutan gila sulhan mengikuti kepongohan kekuasaan.  Wallahu alam bi showab.[]

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Sahrul Pora

adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link