Sebenarnya tidak ada keinginan untuk menulis terkait Covid-19 ini, tetapi seorang rekan menyarankan untuk ikut bersumbangsih menyuaraknnya. Karena kata sebgaian orang ini waktu yang tepat untuk membicarakan Perkara ini.

Pandemic Covid-19 ini memang sangat luar biasa mencemaskannya, penyebaranya yang begitu cepat dan juga ancaman yang cukup mematikan. Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama pada awal maret di Kota Bogor dan terus menyebar dengan cepat hingga per hari ini data dari worldometers.info di Indonesia sudah terdapat 1.414 Kasus positif Covid-19, 122 meninggal dan 75 sembuh. Untuk menanggulani hal ini pemerintah memberikan himbauan untuk melakukan social distancing. Hal ini juga berimbas kepada dilalihkannya proses belajar mengajar melalui online.

Nampaknya memang dunia pendidikan Indonesia kurang sigap menghadapi era distrupsi ditambah dengan hadirnya pandemic Covid-19 membuat mekanisme pengajaran kacau balau. Mungkin sebagian guru atau dosen sudah terbiasa dengan hal tersebut akan tetapi sebagian besar kaget dan bingung apa yang harus dilakukan, dengan solusi tergampang adalah membebankan TUGAS. Namun pola belajar mengajar melalui online tersebut nampaknya memberikan banyak gugatan dari peserta didik. Mulai dari keluhan atas mekanisme pembelajaran yang hanya memberatkan peserta didik, hingga tuntutan untuk pemenuhan atas fasiltas yang telah dibayar kepada kampus. Hal ini dibuktikan dari maraknya persebaran poster ajakan untuk menuntut hak di berbagai media sosial. Kontenya dari yang konyol, menghibur, satire sampai yang serius

Ternyata fenomena ini nyambung dengan buku yang belakangan ini baru saja selesai saya baca. Buku yang diangkat dari thesis milik Siti Murtiningsih tentang “Pendidikan Alat Perlawanan” yang isinya memuat teori-teori pendidikan milik Paulo Freire yang dianggap radikal.

Dalam buku tersebut Paulo Freire berpendapat bahwasannya pendidikan bertujuan untuk humanisasi atau pemanusiaan atau juga bahasa saya adalah menciptakan manusia merdeka. Untuk dapat membentuk manusia merdeka, perlu adanya unsur dialog antara pendidik dan peserta didik agar tidak menciptakan penindasan diantara keduanya.

Dialog dapat menciptakan manusia-manusia yang progresif dan kritis, dimulai dengan keberanian pendidik maupun peserta didik untuk menghadapin kenyataan. Sudah selayaknya pendidikan itu hadap masalah bukan tercerabut dari akar persoalan sesungguhnya. Pendidik harus berani untuk mengakui kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangannya sehingga akan terjadi pembebasan dalam proses pencarian ilmu.

Melihat kondisi hari ini, nampaknya para pendidik engan untuk berterus terang tentang kekurangan dan kesulitanya. Di sisi lain peserta didikpun segan untuk berterus terang, melihat permasalahan yang akan dihapainya jauh lebih pelik. Ketika keduanya enggan untuk melakukan dialog, maka tidak akan terbangun kesadaran akan realitas yang dihadapi. Terbentuknya maanusia progresif dan kritis sebagai cerminan manusia yang merdeka tidak akan tercapai, justru akan menciptakan manusia yang pesimistis dan bersifat fatalisme.

Covid-19 hari ini ternyata tidak hanya memberi teguran untuk tetap selalu menjaga kesehatan, kebersihan diri dan lingkungan. Lebih dari itu nyatanya Covid-19 mengajarkan dunia pendidikan Indonesia untuk harus siap menghadpi tantangan-tantangan lain kedepannya. Termasuk untuk siap mengupgrade diri menghadapai era distrubsi. Baik itu segi fasilitas infrastruktur Teknologi, sumber daya manusia dan lainnya.

Juga, pendidik harus mampu ikut mengimbangi model mengajar yang kekinian mengikuti perkembangan jaman agar tidak mati dimakan disrupsi keadaan.[]

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Tengku Imam Syarifuddin

adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas, Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Pemerintahan UMY

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link