Berkreasi Dalam Aksi “Faiths4ClimateJustice”

 Berkreasi Dalam Aksi “Faiths4ClimateJustice”

Aksi bukan melulu soal suara lantang, melempar batu mengenai temennya sendiri, ditangkap dan kemudian viral di media-media sosial. lebih dari itu, bagi kami aksi merupakan sebuah komunikasi struktural yang dijalin oleh masyarakat kepada pihak institusional, dalam hal ini adalah penguasa, guna mengemukakan beberapa keluh kesah mengenai situasi dan kondisi yang tengah terjadi, hususnya ekosistem iklim saat ini yang sedang terdzalimi. Dengan cara persuasif, rakyat yang sudah dipandang rendah kali ini lebih merendah, memohon kepada penguasa agar suaranya yang kecil itu didengar. Adapun mengenai aksi memang ruang komunikasisanya banyak sekali tetapi dalam agenda pekan edukasi iklim kali ini, intinya kami memilih jalan aksi (damai) di ruang publik dengan membawa poster dari bahan kardus bekas, sembari menyuarakan beberapa aspirasi agar masyarakat juga tahu bahwa keadaan ekosistem iklim kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. terutama ketakseimbanagan iklim akibat berbagai macam kerusakan yang ditimbulkan oleh limbah pabrik, sampah, tambang dan lain sebagainya adalah nyata dan didepan mata.

Tapi sebelumnya mari flashback kebelakang sejenak. Sebagai bentuk ikhtiar, kami yang terwakili dari komunitas-komunitas keagamaan dan literasi bergandengan tangan. Ada RBK (Rumah Baca Komunitas), KHM (Kader Hijau Muhammadiyah) dan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) yang terkoneksi langsung oleh Greenfaith Network menggagas berbagai macam kegiatan dan teatrikal untuk menyuarakan isu lingkungan yang saat ini sedang mengalami krisis, seperti podcast pemuda dan masa depan lingkungan, diskusi publik, bedah film dan lain-lain. Ini sekaligus juga dalam rangkaian acara Faith For Climate Juctice International, yang dilaksanakan sejak tanggal 10 Oktober lalu, yang mana kami dan seluruh masyarakat dunia merespon sejak dini dan mengajak semuanya supaya lebih sadar tentang kondisi iklim yang semakin sengkarut dan tentunya ini akan menjadi ancaman serius bagi umat manusia.

Banyak sekali ragam aksi yang dipertontonkan oleh masyaraakat dunia pada puncak peringatan Faiths For Climate Justice kali ini. Tidak kurang dari dari 23 negara yang berpartisipasi dan ratusan aksi yang ikut meramaikan agenda tahun ini. Mulai dari aksi membentangkan poster bertemakan Fossil Fuels didepan Gedung Putih Amerika, aksi di depan tempat ibadah dan dijalanan, dan masih banyak lagi. Adapun aksi kami kemarin dari kawan-kawan di Jogja juga tidak kalah dramatis. Diantaranya ada dua perwakilan dari Rumah Baca Komunitas berjalan menggunakan APD lengkap dengan membawa kantung sampah dan juga infuse. Ini sebagai ilustrasi bahwa kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sehari-hari kita sedang menghirup dan memproduksi sampah. Dan menanam tumbuhan adalah sebagai bentuk perlawanan terhadap kerusakan itu sendiri. kami berjalan ditengah-tengah kerumunan masyarakat malioboro yang berlalu-lalang dengan memegang poster bernadakan ajakan untuk peduli terhadap kondisi iklim yang semakin keruh saat ini.

Sebelumnya kami dan kawan-kawan juga usai melakukan aksi di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) tepatnya di kecamatan Piyungan, Bantul. Setelah memeroleh izin dari pihak yang berwenang disana, akhirnya kami diizinkan untuk mengambil dokumentasi untuk kepentingan kegiatan ini. Disana kami menyuarakan aksi standing for plastic ban dalam rangka mengajak masyarakat agar lebih arif dalam penggunaan kantung berbahan plastik. Karena selain tidak ramah lingkungan, efek yang di timbulkan plastik juga mengancam kesehatan warga sekitar yang tinggal di sekitaran tempat pembuangan sampah tersebut. Setelah aksi di Piyungan kami berangkat ke lokasi lain menuju Jl. Malioboro.

Kami akhiri agenda hari itu dengan bagi-bagi tanaman kepada warga Jogja. titik lokasinya di nol KM area Malioboro. Sekitar dua ratusan tanaman dengan dihias menggunakan wadah bertuliskan kata-kata motivasi kami bagikan serentak sore itu juga. Aksi bagi-bagi tanaman dilakukan sekitar pukul 17.00 WIB setelah aksi walk for climate sampai dengan selesai kira-kira masuk waktu maghrib. Ada yang menarik saat kami bagi-bagi tanaman. Karena tidak hanya pemuda yang ikut serta, tetapi juga ada anak-anak yang ikut berpartisipasi. Mereka terlihat sangat senang dan menikmati kegiatan sore itu. Mereka juga ikut membentangkan poster di pinggiran jalan Malioboro dan membagi-bagikan tanaman tepat sesaat warga berhenti di lampu merah. Dengan senyum ramah mereka menawarkan tanaman secara gratis kepada pengguna jalan. Harapannya adalah kami ingin semua masyarakat terlibat dalam menahan laju iklim yang semakin panas dan tidak stabil dengan mengurangi konsumsi sampah plastik setiap harinya dan sadar untuk memperbaiki lingkungan dengan menanam tanaman. Karena satu tanaman ada banyak kehidupan.

Bagikan yuk

Toyiz Zaman