Daeng (Dg) Kulle (47) baru saja selesai makan, siang itu. Ia bersiap melaut. Sebotol air digengam, sebungkus rokok dan tidak lupa korek. Ia akan mencari ikan di sekitar Pulau Gusung tempatnya bermukim. Alatnya sederhana saja, sebilah panah dan kaca mata (molo) ala bajo yang dibuat dari kayu. Kaca mata ini hanya menutupi kedua biji mata. Sementara hidung tidak dicover oleh jenis kaca mata ini.

Pulau ini secara geografis terpisah dari Pulau Selayar. Dari Benteng (Ibu Kota Kabupaten), kita bisa tempuh antara 10-15 menit naik perahu katinting. Atau dalam bahasa Selayar disebut dengan lepa-lepa. Pulau ini sepintas seperti bersambung dengan Pulau Pasi’ di selatannya, tetapi terpisah. Dibatasi oleh selat yang jaraknya sepelemparan batu. Apabila air surut, selat ini tidak bisa dilalui oleh perahu nelayan. Tetapi jika pasang, perahu nelayan bisa melintasi selat itu menuju timur pulau yang merupakan ekosistem mangrove. Orang Gusung sering menyebutnya dengan tarrusan (bersambung atau terus).

Sebagian besar – untuk tidak menyebut seluruhnya – penduduk pulau itu bekerja sebagai nelayan dengan beragam jenis alat tangkap yang digunakannya seperti: pancing, pukat, sero’, rawe, bubu, dan memanah. Sebagian kecil penduduknya mengolah kelapa – milik orang Selayar – yang ada di pulau itu jadi kopra jika waktunya telah tiba.

Secara administrasi, Pulau Gusung termasuk dalam wilayah Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu. Desa ini terdiri atas tiga dusun; Gusung Timur, Gusung Barat dan Gusung Lengu’. Pemerintahan desa terletak di Gusung Barat. Gusung Lengu’ ini awalnya terletak disisi barat tarrusang. Tetapi peristiwa tsunami pada tahun 1992 yang melanda Kalabahi, Flores, NTT membuat kampung itu tenggelam. Akhirnya masyarakat kemudian pindah ke arah selatan yang saat ini disebut Lengu’. Jejaknya masih bisa dilihat saat air surut.

Tena lepa-lepa ta (yang mana perahunya)”? tanya saya.

Injo mange nu ta’ce’e biru n jo (itu yang sana, warna biru)” ujarnya sembari menunjuk ke perahu katinting yang ada di pinggir pantai.

Ia lalu melepas tambatan perahu. Menyetel mesin 3 pk miliknya. run .. run… perahu mulai bergerak menuju arah barat. Dg Kulle nampak lihai mengendalikan kemudi menyusuri pinggiran pantai yang dangkal dengan ekosistem padang lamun yang khas. Di Pulau itu, minimal terdapat tiga ekosistem yang dimiliki, yaitu padang lamun, mangrove dan terumbu karang.

Ekosistem terumbu karang merupakan habitat bagi beragam biota seperti ikan-ikan karang, udang, gurita, lobster dan kerang-kerangan. Ekosistem inilah yang menyetok sumberdaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Pulau Gusung.

Sementara ekosistem mangrove merupakan habitat bagi ikan, kepiting dan burung. Di ekosistem ini pula yang menyediakan unsur hara terhadap ekosistem air dan tempat pemijahan bagi beberapa jenis ikan. Dari ekosistem ini pula beberapa nelayan sering mencari kepiting baik untuk konsumsi atau dijual. Bahkan di ekosistem ini pernah dijadikan tempat budidaya kepiting bakau.

Kontur pantai di sisi barat pulau memang cenderung slope dari ekosistem padang lamun hingga ke area terumbu karang disisi barat. Sehingga ketika air surut, perahu acap kali harus berputar jauh keluar agar tidak kandas. Di bagian luar terumbu karang itulah Dg Kulle akan memanah ikan.

Sebelum magrib tiba Dg Kulle sudah mendarat kembali di pantai. Menambatkan perahu miliknya.

Nguppa juaki Daeng? (Daeng, bagaimana tangkapan hari ini)” tanyaku memecah keheningan pada senja sore itu.

Ya lumayan jua, riek ja kanreangan. Ruang tikjo’ la balukang amma’na njomange (lumayan, adalah untuk makan keluarga, dua ikat [ikan] dijual oleh istri)” jelasnya dengan sumringah, penuh keikhlasan.

Di Pulau Selayar, dulu ikan tidak dibungkus pakai kantong plastik, tetapi diikat dengan menggunakan pengikat yang dibuat dari mayang kelapa yang sudah tua. Atau diambil dari tali pengikat yang terbuat dari ihusu (bahasa lokal, saya belum menemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia). Atau ikan di gompo (kelompokkan) saat dijual. Perilaku ini sebenarnya cukup baik dalam menjaga lingkungan, meski belakangan juga mengalami degradasi.

**

Potret Dg Kulle dan keluarganya adalah cerminan subsistensi kehidupan banyak keluarga nelayan di pulau-pulau kecil (yang jumlahnya 132 pulau di Kepulauan Selayar), bukanya hanya pulau Pasi’-Gusung, tetapi dalam wilayah Kepulauan Selayar pada umumnya yang membentang dari Pulau Pasi’ (Tanete) di utara hingga Pulau Karompa di tenggara.

Pulau Gusung saat senja. Dari kejauhan adalah bekas pemukiman orang Gusung Lengu’

Kehidupan subsistensi seperti diatas pernah digambarkan oleh James C. Scott (1976) ketika meneliti petani pra industrial di Birma. Ia menulis karya yang terkenal “The Moral Economy of The Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia” dan diterjemahkan oleh Hasan Basari dalam Bahasa Indonesia dengan judul Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara dan diterbitkan LP3ES tahun 1981.

Scott menggunakan pendekatan antropologi moral ekonomi dalam melihat perilaku petani Birma. Subsistensi itu dicirikan dari cara berproduksi yang cakupannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri. Kelebihan atas kebutuhan rumah tangga inilah yang  kemudian dijual. Oleh JH Boeke disebut sebagai kebutuhan yang terbatas (limited need) dan sikap merasa puas, tenteram, damai tanpa harus memaksakan keinginan lebih daripada yang mereka miliki (Syahyuti, 2014: 86).

Meski saya tidak sepenuhnya setuju dengan Boeke mengenai konsep kebutuhan terbatas itu. Praktik tersebut sebenarnya lebih merupakan ekspresi dari keterbatasan yang dimiliki oleh masyarakat tempatan. Dalam beberapa kasus, kita menemukan praktik di pulau-pulau kecil, nelayan meminjam uang untuk membeli pulsa atau paket data. Nah, apakah itu disebut sebagai kebutuhan minimal, tentu tidak juga, kan?

Kehidupan subsistensi nelayan di Pulau Gusung juga sangat bergantung dengan sumberdaya yang disediakan oleh alam. Khususnya ekosistem (mangrove, padang lamun dan terumbu karang) yang menjadi habitat bagi banyak organisme seperti ikan, kepiting, cumi-cumi, dan kerang-kerangan.

Sementara aktivitas manusia terus menekan sumberdaya laut yang ada. Itu karena sifat laut yang merupakan kepemilikan bersama (common property) dan akses yang bersifat terbuka (open acces). Sehingga semua jenis nelayan bisa mengambil manfaat dari laut di sekitar Pulau Gusung. Termasuk nelayan-nelayan pagae dari Bulukumba atau Sinjai yang menggunakan armada besar. Bahkan bukan hanya itu, sejumlah nelayan dari desa tetangga juga yang menggunakan cara-cara ilegal: bius (sianida) beroperasi mengeksploitasi sumberdaya milik bersama itu.

Tak pelak, situasi ini seringkali menjadi potensi konflik yang jika dibiarkan terus menerus berlangsung dalam ketidak seimbangan; nelayan subsisten dengan alat tangkap serba terbatas, sementara nelayan lainnya menggunakan bius atau alat tangkap modern. Atas keterbatasan yang dimiliki, nelayan seringkali memproteksi area tradisional yang merupakan denyut nadi kehidupan komunalnya.

Di sejumlah wilayah di Kepulauan Selayar, konflik perembutan sumberdaya laut ini sering terjadi. Misalnya konflik antara nelayan Pulau Tambolongan dan Polassi yang menewaskan korban diantara kedua bela pihak pada tahun 2005 (Damanik, 2008: 107), konflik nelayan Pasi’ (Tanete) dengan nelayan Sinjai tahun 2009, konflik antara nelayan Pasi’ (Tanete) dengan nelayan Bulukumba tahun 2011, konflik antara nelayan Rajuni dengan Taman Nasional yang mengakibatkan penembakan terhadap Husain alias Saddam pada tahun 2016, konflik antara nelayan Bongaya dengan nelayan Barat Lambongan tahun 2017, dan konflik antara nelayan Barugaia dengan Mekar Indah tahun 2018.

Tidak sedikit godaan yang datang untuk menggunakan cara-cara ilegal dengan menggunakan bius untuk memburu hasil tangkapan. Terutama oleh para bos-bos ikan.

Iya ndik, biasa ki la tawarkan (iya dek, biasa ditawarkan)” ujarnya sembari menundukkan kepalanya.

Memang lohe hassele, tapi ya pakonjomu injo. Geleki sannang (Ya memang banyak hasil, tapi kita tidak tenang)” jelasnya ketika saya tanyakan tentang penggunaan bius.

Manna sokdik jua tapi sannang nyahanjo, bajik ji (biar sedikit tapi jiwa tenang, lebih baik)” urainya lagi.

**

Dalam kehidupan subsistensi nelayan Pulau Gusung, faktor sumberdaya laut merupakan aspek yang sangat fundamental. Sumberdaya laut merupakan kehidupan bagi nelayan di wilayah itu. Meletakkan wilayah pulau itu sebagai kawasan konservasi daerah (KKD) tentu suatu langkah maju. Tetapi seberapa jauh kawasan tersebut mampu dipertahankan kondisi sumberdayanya agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat tempatan, juga adalah tantangan yang tidak ringan bukan?

Dalam subsistensi itu, ada keguyuban dan kehidupan ekonomi yang selaras dengan alam. Pergerakan pasar (market) yang merangsek, dan bahkan brutal menyerbu kehidupan subsistensi nelayan. Ia menawarkan kemewahan material. Tetapi disaat yang bersamaan mendegradasi sumberdaya alam yang merupakan nadi kehidupan masyarakat di pulau itu.

Tangan-tangan Negara harus mengaturnya. Agar tidak menimbulkan konflik. Wallahu A’lam.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Masmulyadi

Pegiat Demokrasi dan Antropolog, tinggal di Selayar

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link