Setelah Jalan Ketiga Cornelis Lay, Inilah Jalan Pulang Demokrasi

Membicarakan Pak Pratikno tidak mungkin kita melupakan Pak Cornelis Lay, atau akrab dipanggil mas Conny. Ari Dwipayanan adalah pembimbing tesis saya saat saya bereskan program Ilmu Politik di UGM. Mereka semua sangat credible sebagai guru, nyaris tanpa cela bagi kami sehingga kami pun lebih banyak nyaman belajar dengan guru-guru kami tersebut. Keterlibatan club UGM masuk ke Istana memang berita baik dan berita menakutkan. Hanya periode Jokowi peranan akademisi UGM sampai pada puncaknya dan deretan alumni menteri yang banyak disumpah melayani rakyat semesta. Sampai pada akhirnya, jelang pemilu pasangan-pasangan Kagama berlaga di dua pasangan capres yang sedikit banyak mengguncang UGM karena ada satu kubu keluarga petahan punya kaki intelektual di Gadjah Mada.

Hari hari jelang pemilu, atau setahun ini begitu nyata pelanggaran etik dan abuse of power di banyak lini kehidupan. Kesengasaraan di tapak-tapak proyek negara sangat faktual dan seolah kita harus melumrahkan belum lagi infrastruktur hukum politik tata kelola pemerintahan yang makin represif dan kehilangan nalar demokrasi-partisipatorisnya. Kami sedih, juga ingin melawan.

Mas Conny orang penting dibalik merapatnya Pak Tik ke Istana, menuliskan pidato guru besar secara baik dan gamblang mana batas etika intelektual jika masuk ke dalam jantung kekuasaan. Ini adalah ringkasan yang paling dahsyat untuk meneladaninya:

“Memperlakukan kekuasaan sebagai alat perjuangan kemanusiaan bukan sebagai tujuan. Dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan Dan Kemanusiaan yang dibacakan tanggal 6 Februari 2019, Mas Cony menyatakan bahwa para intelektual di Indonesia seolah-olah terjebak dalam persimpangan dua jalan yang saling meniadakan, pilihan untuk mendekat dan menjadi bagian dari kekuasaan atau sebaliknya menjauhi dan bahkan memusuhi kekuasaan. Mas Cony tidak sepakat dengan dikotomi yang menurutnya tidak bermanfaat tersebut. Menurut Mas Cony, kekuasaan harus dipandang sebagai hal yang normal, bukan sebagai sesuatu yang harus diagung-agungkan, dicari, dan dipertahankan dengan segala cara atau terus-menerus dibenci dan dimusuhi. Selain itu, bagi Mas Cony, kekuasaan harus dimaknai sebagai alat perjuangan kemanusiaan bukan sebagai tujuan sehingga Mas Cony menawarkan “Jalan Ketiga” yaitu suatu pemikiran bahwa intelektual bebas untuk masuk dan keluar kekuasaan secara fleksibel dengan menempatkan kemanusiaan sebagai motif pokoknya. Tentu saja untuk mencapai “Jalan Ketiga” tersebut perlu kematangan, kepekaan dan kapasitas dalam menilai politik yang harus dilatih terus dan tidak bisa didapatkan secara instan.

Di tengah pandemi covid 19, seorang pemikir dan pejuang telah pergi meninggalkan kita semua. Rabu 5 Agustus 2020, Cornelis Lay pulang menghadap Sang Pencipta. Kepergian Mas Cony, begitu panggilan akrab beliau, menyisakan duka bagi keluarga, rekan-rekan, dan murid-murid beliau. Semua kenangan tentang kebaikan dan pelajaran yang diberikan oleh Mas Cony mewujud dalam berbagai tulisan obituary yang tersebar luas baik di media massa maupun media sosial. Pastinya, saya punya banyak kenangan dibimbing skripsi saya oleh mas Conny.

Sebagai bagian dari mahasiswa DPP UGM, saya turut menyampaikan surat ini terbaca di publik luas.

Kepada:

Pak Pratikno dan Mas Ari Dwipayana.

Guru-guru kami di Dept. Politik dan Pemerintahan (DPP) FISIPOL UGM

Izinkan kami menuliskan surat ini untuk menyampaikan rasa cinta sekaligus kecewa.

Rasanya baru kemarin kami mendengar ceramah Pak Tik dan Mas Ari di kelas mengenai demokrasi. Kami diyakinkan bahwa demokrasi merupakan sebuah berkah yang harus kita jaga selalu keberlangsungannya. Bagaimana tidak? Indonesia telah bertransformasi dari salah satu simbol otoritarianisme terbesar di dunia menjadi salah satu negara demokrasi paling dinamis di Asia. Transisi ini ditandai oleh beberapa hal, mulai dari penarikan angkatan bersenjata dari politik, liberalisasi sistem kepartaian, pemilu yang jurdil, kebebasan berbicara, kebebasan pers, serta hal-hal lainnya. Semua itu tidaklah mudah dilakukan di negara dengan masyarakat majemuk, yang pada saat itu sedang berjuang untuk pulih dari dampak krisis keuangan. Karena itu, semuanya sangat patut kita syukuri.

Namun, sayangnya, lebih dari 20 tahun sejak datangnya berkah tersebut, demokrasi Indonesia justru mengalami kemunduran. Melihat situasi perpolitikan Indonesia saat ini, rasanya kami semakin resah, sama seperti Mas Ari yang khawatir dengan harga tinggi demokrasi atau seperti Pak Tik yang resah dengan otoritarianisme Orde Baru seperti disampaikan dalam beberapa tulisan di masa lalu.

Tahukah Pak Tik dan Mas Ari, kenapa kami resah? Sejak 2019 kami telah turun ke jalan untuk memprotes banyak hal yang kami rasa mengancam demokrasi. Ada revisi UU KPK, terbitnya UU Ciptakerja, revisi UU ITE, dan lainnya. Justru hari ini, di tengah perhelatan Pemilu 2024, kita menyaksikan demokrasi sedang menuju ambang kematiannya. Rakyat disuguhi serangkaian tindakan pengangkangan etik dan penghancuran pagar-pagar demokrasi yang dilakukan oleh kekuasaan. Para penguasa dengan tidak malu menunjukkan praktik-praktik korup demi langgengnya kekuasaan. Konstitusi dibajak untuk melegalkan kepentingan pribadi dan golongannya. Melihat ini semua, rasanya demokrasi Indonesia bukan hanya sekedar mundur ataupun cacat, tetapi sedang sekarat.

Kita melihat bersama, bahwa kekuasaan telah merusak pagar yang menjaga agar demokrasi tetap hidup dan terus dapat dirayakan. Jika pada akhirnya demokrasi kita, demokrasi milik rakyat Indonesia ini, mati, maka sejarah akan mengingat siapa saja pembunuhnya. Untuk itu, menjadi keharusan bagi seluruh pihak untuk menyadarkan kekuasaan atas perbuatannya.

Tolong bantu kami mengingat, bukankah peran yang Pak Tik dan Mas Ari ambil dalam pusaran kekuasaan adalah suatu bentuk upaya untuk menjawab tantangan tersebut? Ijinkan kami kaitkan hal itu dengan pelajaran yang pernah kami dapat di DPP.

Antonio Gramsci, pemikir yang sangat sering dikutip oleh Mas Ari, membedakan kaum intelektual menjadi dua jenis: intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah sekelompok intelektual yang membantu melegitimasi kekuasaan kelas penguasa. Para intelektual tradisional ini menjadi alat para penguasa dalam mengokohkan

konsolidasi mereka atas kekuasaan, dan dalam konteks saat ini, intelektual hanya menjadi instrumen penjustifikasi bagi penguasa dalam melegitimasi kebijakan yang cenderung mendorong kemunduran demokrasi. Intelektual organik didefinisikan Gramsci sebagai intelektual yang kritis pada kekuasaan, berpikir bebas, dan berlandaskan nilai kemanusiaan. Intelektual organik memang bisa menjadi ancaman utama terhadap ambisi-ambisi licik kelas penguasa. Mereka mampu menyadari segala niat busuk penguasa yang berlindung dibalik diksi “stabilitas”, yang sejatinya bermakna stabilitas bagi upaya konsolidasi kekuasaan yang semena-mena.

Di luar klasifikasi biner ala Gramsci, terdapat satu jalur alternatif bagi para intelektual yang oleh guru kami yang lain, koleganya Pak Tik dan gurunya Mas Ari, yakni Mas Cornelis Lay (Conny), disebut sebagai “intelektual jalan ketiga”. Jalur alternatif ini adalah jawaban dari peran yang dilematis bagi para intelektual untuk menjadi bagian dari kekuasaan, atau menjauhinya atas dasar nilai kemanusiaan. Mereka adalah intelektual yang mampu dengan leluasa keluar masuk kekuasaan, tanpa perlu mengorbankan karakter akademisnya yang bebas, kritis, dan bijak. Untuk bisa leluasa dengan aksesibilitas “keluar masuk” kekuasaan, Mas Conny menekankan “penilaian yang matang dan menyeluruh” dengan berlandaskan pada integritas keilmuan dan kredibilitas bagi kaum intelektual. Poin utamanya adalah bagaimana para intelektual bisa bersahabat dengan kekuasaan tetapi tetap membawa nilai dasar intelektual, demi kepentingan pembebasan manusia dan pemuliaan kemanusiaan.

Pemerintahan saat ini jelas berada dalam upaya melanggengkan kekuasaan, terbilang tidak anti-intelektual dan malah mendegradasi intelektualisme, tetapi justru disokong oleh banyak intelektual sebagai instrumen “stempel” dan pihak justifikasi kebijakan penguasa. Lalu, berada di jalan mana para intelektual yang saat ini menjadi bagian kekuasaan berada?

Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, Mas Conny berkata:

“Dosa terbesar kaum intelektual tidak diperhitungkan berdasarkan jumlah kesalahan yang dibuat, tetapi oleh kebohongan dan ketakutan dalam mengungkapkan kebenaran yang diketahuinya”

Jalur intelektual jalan ketiga ini bagi kami adalah jalur yang ideal bagi para akademisi yang memutuskan untuk mengambil peran dalam kekuasaan tanpa mengkhianati nilai-nilai prinsipal yang dipegang. Jalur itulah yang seharusnya diyakini dengan teguh oleh setiap akademisi, saat mereka memberanikan diri naik ke panggung kekuasaan.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,” begitulah kata Pramoedya Ananta Toer. Sebagai pembelajar ilmu politik sekaligus murid-muridnya Pak Tik dan Mas Ari, kami menyadari bahwa segala permasalahan terkait kemerosotan demokrasi adalah permasalahan sistemik yang disebabkan oleh banyak aktor. Ini bukan kesalahan Pak Tik dan Mas Ari semata. Namun, biar bagaimanapun kami menyadari, dua guru kami telah menjadi bagian dari persoalan bangsa. Untuk itu, ijinkan kami mewakili Pak Tik dan Mas Ari menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas hal itu.

Kami masih mengingat betul suara Pak Tik dan Mas Ari, ketika menyebut kata ‘demokrasi’ di ruang-ruang kelas. Gema suara itulah, Pak Tik dan Mas Ari, yang membangunkan kami dari kematian kepedulian terhadap bangsa dan negara ini. Kami menjaga gema itu di sini, memastikan semuanya mendengar dan mengamini.

Kami menyaksikan, betapa manifestasi gema itu sungguh terjal. Tapi jeritan dan tangisan nestapa yang tak pernah usai dari siapa-siapa yang sukar merasakan keadilan terus melucuti batin. Bagi kami, Pak Tik dan Mas Ari adalah guru, rekan, sahabat, kerabat, dan bapak. Hari ini kami berseru bersama: kembalilah pulang. Kembalilah membersamai yang tertinggal, yang tertindas, yang tersingkirkan. Kembalilah ke demokrasi; dan kembalilah mengajarkannya kepada kami, dengan kata dan perbuatan.

Yogyakarta, 11 Februari 2024

Mahasiswa DPP FISIPOL UGM lintas angkatan.

Suara suara pelantang kebenaran akan memburuknya demokrasi terus berdengung 24 jam yang tak mungkin panca indra kami diam saja. Kami harus juga menjadi bagian dari pendukung kekuasaan yang beretika dan welas asih bagi semuanya. Karena, kekuasaan itu alat memuliakan manusia bukan tujuan jangka pendek semata. Setalah Mas Conny menunjukkan jalan ketiga intelektual yang dipratiknkkan dengan baik oleh Pak Pratikno di awal periode kepemimpinan Jokowi kini kekuasaan itu semakin menyimpang dan dinormalisasi oleh akademisi jejaring Pak Tik atau yang disebut Pratikno Boys. 

Sumber: dokumen pribadi (Prof Cornelis Lay, guru yang sangat memajukan alam pikiran saya)

Dulu mas Conny kasih petunjuk jalan ketiga intelektual, sayang sekali Mas Conny kini tak bisa mengarahkan pak Tik Pulang, sehingga biarlah murid muridnya ini yang menyambung jalan pulang pak Tik: Bagi kami, Pak Tik dan Mas Ari adalah guru, rekan, sahabat, kerabat, dan bapak. Hari ini kami berseru bersama: kembalilah pulang. Kembalilah membersamai yang tertinggal, yang tertindas, yang tersingkirkan. Kembalilah ke demokrasi; dan kembalilah mengajarkannya kepada kami, dengan kata dan perbuatan.

Bagikan yuk

David Efendi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.