Mengenal Bapak Koperasi Maluku Utara

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 12 Juli, Koperasi Indonesia baru saja merayakan hari jadi yang ke-76. Penetapan Hari Koperasi Nasional ini bermula ketika Kongres Koperasi Indonesia yang dilaksanakan di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947. Namun sebenarnya, jika di telisik lebih jauh ke belakang, sejarah koperasi Indonesia sudah di mulai jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam perkembangannya, koperasi memainkan peran penting dalam sistem perekonomian di Indonesia, karena terbukti sebagai inti dari model ekonomi solidaritas yang gerakannya berdasar pada asas kekeluargaan. Institusi ekonomi ini dalam kiprahnya telah mampu memberikan kesempatan kerja yang besar. Bahkan telah menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat menengah ke bawah.

Keberadaan koperasi sampai saat ini telah banyak membantu pergerakan perekonomian masyarakat. Atas dasar itu koperasi dikenal sebagai soko guru perekonomian bangsa karena memiliki sifat mengutamakan kepentingan rakyat dibandingkan golongan. Karena itu juga koperasi dikenal sebagai organisasi yang berperan penting dalam pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Berbicara tentang koperasi, terutama di Indonesia, kehadirannya tidak bisa dilepaskan dari peran bapak koperasi Indonesia. Adalah Muhammad Hatta, sang proklamator yang akrab dengan sebutan Bung Hatta itulah yang merintis berdirinya koperasi dan berkembang hingga saat ini. Tentunya gelar tersebut tidak diberikan begitu saja tanpa alasan. Ada sejarah panjang di balik mengapa Bung Hatta dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia.

Ardanan Salasa, Bapak Koperasi Maluku Utara

Menyebut nama Ardanan Salasa, bagi publik Maluku Utara mungkin masih terdengar asing. Berbeda ketika kita menyebut nama aktor-aktor politik seperti Taib Armayin, Abdul Gani Kasuba, Ahmad Hidayat Mus, ataupun Benny Laos, dan masih banyak lagi aktor politik di provinsi yang terkenal dengan sebutan kepulauan rempah-rempah ini.

Ya, memang demikian, karena aktor-aktor politik adalah mereka yang paling sering tampil ke ruang-ruang publik dan terjun langsung ke masyarakat untuk menyapa dan menyerap aspirasi warga, belum lagi ketika bertepatan dengan momentum politik, serta keterlibatan media di dalamnya untuk menopang popularitas mereka.

Tetapi, ketika kita menyebut Koperasi Bobato, bukan tidak mungkin, seluruh warga Maluku Utara tentunya sudah familiar dengan nama tersebut. Sekilas, Koperasi Bobato merupakan salah satu koperasi yang sudah lama beroperasi di Maluku Utara. Didirikan sejak 1994, kehadiran Koperasi Bobato sampai saat ini, telah berkontribusi cukup nyata dalam menggerakkan roda perekonomian di bumi Moloku Kie Raha.

Artinya, ketika kita berbicara tentang dunia perkoperasian di provinsi Maluku Utara, maka sosok yang berada di balik eksisnya Koperasi Bobato sampai hari ini harus mendapatkan tempat yang layak. Adalah Ardanan Salasa, sosok yang selama ini berada di balik kesuksesan Koperasi Bobato. Dengan kata lain, ketika kita berbicara tentang koperasi, maka nama Ardanan Salasa adalah tokoh utama yang harus dibicarakan.

Seperti halnya Muhammad Hatta yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Maka, nama Ardanan Salasa dapat didaulat sebagai Bapak Koperasi Maluku Utara berkat kontribusi beliau dalam mendirikan dan mengembangkan KUD Bobato di Maluku Utara.

Arifin Muhammad Ade

Sepak terjang pria kelahiran Topo, sebuah kampung yang terletak di pegunungan Pulau Tidore tersebut dalam menakhodai Koperasi Bobato yang didirikan pada tiga dekade silam bersama rekan-rekannya, telah mengantarkan koperasi yang awalnya memulai usaha waserda (warung serba ada) dapat menggapai sukses dengan mendirikan berbagai unit usaha di berbagai sektor.

Sampai sejauh ini, keberadaan Koperasi Bobato di bawah genggaman tangan dingin alumnus Universitas Muslim Indonesia tersebut telah melahirkan beberapa unit usaha, sebut saja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bobato Lestari dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Bobato Lestari, dua unit bank yang saat ini tengah beroperasi di beberapa kabupaten dan kota di Maluku Utara. Selanjutnya unit usaha yang bergerak di sektor pertanian dan perkebunan, maupun usaha yang bergerak di bidang properti dan jasa konstruksi.

Berkat keseriusan sosok yang mengawali karir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ini, tidak berlebihan kiranya, dalam konteks Maluku Utara, nama Ardanan Salasa dapat didaulat sebagai “Bapak Koperasi Maluku Utara” berkat kontribusi beliau sebagai inisiator berdirinya Koperasi Bobato, seperti halnya Muhammad Hatta yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia karena perannya dalam memajukan koperasi di Indonesia.

Inisiator Pendirian Koperasi Bobato

Sebagaimana telah diuraikan di atas, kehadiran Koperasi Bobato sampai sekarang yang telah melahirkan beberapa unit usaha, sebenarnya bermula dari usaha waserda, sebuah usaha sederhana yang menyediakan kebutuhan pokok, serta pembelian produk-produk pertanian dan perkebunan, seperti pala dan cengkeh yang dihasilkan oleh warga.

Terkait usaha yang disebut belakangan, hal ini disebabkan karena masyarakat setempat selalu mengalami kendala saat harus menjual hasil panen yang didapatkan dari kebun. Hanya melalui koperasi hasil-hasil pertanian dan perkebunan tersebut dapat tersalurkan, kemudian dijual ke produsen untuk diolah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi.

Fenomena penjualan hasil alam yang hanya bisa melalui koperasi, sebenarnya tak terlepas dari kebijakan yang dilahirkan rezim pemerintahan Soeharto. Sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1992 tentang Tata Niaga Cengkeh Hasil Produksi Dalam Negeri yang menyatakan bahwa pembelian cengkeh dari para petani cengkeh dilakukan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) dengan harga dasar yang ditetapkan oleh Presiden.

Kebijakan pemerintah yang mengontrol penjualan cengkeh inilah yang kemudian menyulitkan para petani. Sebagai seorang anak petani, sosok Ardanan Salasa juga merasakan hal yang sama. Faktor ini kemudian menjadi alasan sosok yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan ini bersama rekan-rekannya berniat mendirikan koperasi. Karena dengan membentuk koperasi, setidaknya bisa menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat kala itu.

Waktu terus berjalan, Koperasi Bobato yang berhasil didirikan oleh Ardanan Salasa pun terus melebarkan sayapnya. Sampai saat ini, kurang lebih tiga dekade sudah Koperasi Bobato dan berbagai unit usahanya hadir melayani masyarakat. Dalam tiga dekade itu pula, Koperasi Bobato, juga unit usaha yang ada di bawah naungannya tetap eksis dan berhasil mengukir berbagai prestasi, baik di tingkat daerah maupun di level nasional.

Berbagai capaian yang diraih Koperasi Bobato serta perannya dalam menggerakkan roda perekonomian di Maluku Utara, kemudian membuat nama Koperasi Bobato semakin familiar di telinga warga masyarakat Maluku Utara. Bahkan menyebut istilah ‘bobato’ saja, dengan sendirinya pemikiran seseorang langsung tertuju pada nama koperasi yang berkantor pusat di Kelurahan Topo tersebut.

Sebagai paragraf penutup, tulisan ini hendaknya memperkenalkan pada publik siapa sebenarnya sosok yang berada di balik kesuksesan Koperasi Bobato. Sosok yang jarang tampil ke publik dan diliput oleh media. Tetapi di balik layar, sosok tersebut memainkan peran yang cukup nyata dalam menggerakkan sektor perekonomian di Maluku Utara. Sekali lagi, “jika Indonesia memiliki Bung Hatta sebagai bapak koperasi, maka di Maluku Utara terdapat nama Ardanan Salasa.”

Bagikan yuk

Arifin Muhammad Ade

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.