Foto Andy Rahman Tuhuteru

KBBI adalah Candu

Oleh: Andy Rahman Tuhuteru
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan

Ihwal untuk membuat seseorang dapat melihat masalah dari suatu fenomena secara komprehensif mau tak mau membawanya kepada konsekuensi untuk mengeksplorasi tema-tema lain yang saling berkaitan, pada titik ini, bagi orang yang referensi bacaannya sedikit, keakraban di luar tema pilihan akademisnya sangat terbatas, adalah sebuah rutinitas yang terus mereproduksi kegelisahaan yang sangat menjemukkan.

Sebagai misal, ketika hendak untuk membaca konstruksi wacana tentang kemiskinan oleh media melalui kacamata Wacana Kritis, suka tidak suka harus mengeksplorasi pada tema-tema diluarnya seperti kajian media secara luas, ilmu politik, sosiologi, dan sejarah, cultural studies, ekonomi politik (media) serta filsafat dan sederet tema lainnya. 

Sifat dari interdisiplineritas yang melekat memang memungkinan untuk memperkaya cara pandangan. Sebagai konsekuensinya, masuk dalam rimba raya dispilin ilmu lain di luar kajian media yang jarang diberikan di bangku kuliah menjadi tak terelakkan. Dan kesulitan yang segera ditemui setelah langkah pertama adalah kesulitan untuk beradaptasi dengan segala terminologi dari masing-masing dispilin. Beberapa memang berkaitan dengan kajian media, tetapi kebanyakan tidak sama sekali. Kesulitan ini seperti seorang Suku Alifuru di pedalaman hutan Seram, Maluku, sedang asyik berinteraksi dengan seorang Dayak dari pedalaman Kalimantan yang masing-masing berbicara dan saling menanggapi dalam Bahasa ibu mereka. Entah apa yang bisa dihasilkan dari obrolan semacam ini.

Kesulitan seperti ini yang kerap saya temui. Bahkan sangat akrab, kalau tidak dikatakan sebagai saudara kandung. Dan biasanya untuk menyiasati kesulitan ini, saya mengunduh dan memasang KBBI android dari Kemendikbud. Selama aktifitas membaca berjalan, gawai selalu sama pentingnya dengan buku. Dan untuk mengurangi keributan di grup-grup wasap yang penuh dengan propaganda quote-quote penyemangat nikah muda yang menjengkelkan itu, mode pesawat selalu menjadi pilihan terbaik. Kebiasaan ini sudah berjalan beberapa tahun belakangan, bahkan hampir berbarengan dengan kesukaan awal terhadap dunia aksara ini.

Tapi, kesulitan segera datang ketika baru hari pertama di lokasi KKN dua bulan belakangan, gawai saya tanpa alasan yang jelas mati tiba-tiba. Dihidupkan tidak merespon, dicharger pun tidak pernah masuk.

Dengan ketergatungan terhadap KBBI yang sudah akut, saya tentu cari jalan keluar dari kesulitan yang baru datang ini. Kemudian teringat bahwa seorang kawan pernah menggunakan KBBI offline versi PC. Kalau tidak salah ingat, orang itu adaalah Marsinah Dhede. Bukan begitu kribo? Tak tunggu waktu lama, pengunduhan dan pemasangan pun segara dilakukan. Namun sayang, KBBI versi ini tidak mempunyai perbendaharaan kata yang selengkap KBBI versi android dari Kemendikbud. 

Cara lain saya coba, dengan meminjam Kamus UmumBahasa Indonesia edisi ketiga yang disusun oleh W.J.S. Peorwadarminta terbitan Balai Pustaka dari seorang kawan. Secara singkat ini memang membantu, tapi membuang banyak waktu segera menjadi kesulitan selanjutnya. Hanya untuk mencari arti dari kata tertentu saja bisa memakan waktu yang tidak seharusnya.

Maka jangan heran, menghabiskan satu bacaan yang tebalnya tidak lebih dari 300 lembar saja butuh satu minggu penuh. Mungkin ini adzab yang setimpal bagi orang-orang yang selalu menjadi pematau fanatik story Instagram ketimbang mencoba untuk mengeksplorasi dan mengekrabkan diri dengan referensi-referensi yang memperkaya wawasan.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup