Gemar Membaca: Cerita Dari Jogja Sampai Ke Timur Idonesia

Oleh: Dafri Muksin, Pegiat RBK

Pagi itu cuaca sangat cerah dan bersahabat, lalulang para pencari nafkah terdengar di sudut-sudut kota, memicu kucuran keringat dibawah matahari yang kian meninggi meninggalkan sang fajar. dan kami pun selesai merapikan buku-buku yang siap dibaca dan di pinjam secara gratis oleh setiap pengunjung tanpa syarat apapun.

Beginilah aktifitas literasi yang di lakukakan setia hari minggu di alun-alun selatan kota Jogja oleh Rumah Baca Komunitas (RBK) melalui program RBK on the street (ROTS) yang sudah dilakoni semenjak tahun 2014. RBK sendiri mulai beraktifitas tahun 2012, tujuh delapan tahun berjalan.

“Buku adalah milik semua orang, buku harus dinikmati oleh semua orang, buku harus sampai ke pengasuhnya sang pembaca” kalimat yang selalu menjadi nafas perjuangan RBK.

Tak hanya anak-anak, namun remaja, orang dewasa bahkan sampai lanjut usia menyapa dan mampir untuk membaca serta meminjam buku. tandanya bahwa buku masih menjadi kawan dan sahabat yang maha asyik atas segala fenomena yang terjadi “spirit membaca dan berfikir.”

Manusia Pembelajar
“Satu-satunya hal yang ku ketahui adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa” Pepatah terkenal yang berasal dari catatan plato mengenai filsuf Yunani kuno Socrates. bahwasanya ketidaktahuan dan keragu-raguan adalan jalan untuk memperoleh pengetahuan. dan sejatinya manusia adalah mahluk pembelajar. belajar tidak harus di sempitkan semata perkuliahan namun belajar dapat dilakukan di manapun dan dengan siapapun.
Menjadi pembantu tidak masalah asalkan saya dapat pengalaman. bahasa yang keluar dari lelaki tua yang barusan datang mengembalikan buku dan sibuk membuka lembaran-lembaran buku yang ada ditangannya. lelaki tua itu akrap disapa pak Tri . Beliau pernah bekerja di jakarta sebagai tenaga buruh dibawah penguasaan cina mungkinkah semua sudut kota sudah dikepung. entahla.!!

Setiap ROTS adalah wahana Obrolan banyak bermakna.Berdasakan kesaksian yang di berikan bang Ode pangilan akrap La Ode Alimin sang pejuang literasi yang berasal dari pulau buruh. Bahwasanya beliau selalu menyempatkan waktu untuk membaca beberapa buku sebelum memulai aktivitas pada hari minggu. kehadiran lelaki tuah ini sagat memberikan pesan dan kesan tersendiri bagi saya.

Belajar tidak mengenal tempat, belajar tidak mengenal usia. Sebab manusia adalah makhluk pembelajar.

Gemar membaca Di Timur Indonesia
Tidak hanya pengunjung yang mendapatkan manfaat dari program ROTS namun juga untuk penggeraknya. Kami pun sibuk membaca buku-buku yang sulit di temui di perpustakaan kota dan kampus di Timur Indonesia. Rasanya seperti bertemu dengan orang-orang yang dirindukan yang ketika lama tidak bertemu. Buku masih menjadi barang mewah. Mendingan kehilangan harta daripada kehilangan buku. Tidak makan bukan masalah asalakan dapat membeli beberapa buku.

Seperti biasanya, ketika bertemu dengan saudara-saudara dari Timur Indonesia pastinya selalu ada tawa atas cerita lucu dari daerahnya masing-masing. Bagi sebagian orang yang memberikan label Timur Indonesia selalu menganggap anak-anak timur itu wataknya keras-keras. Kami sendiri tidak mengap dari Timur ataupun barat, kami adalah Indonesia karena kami sadar bahwa pengkotak-kotakan identitas adalah sumber konflik. Dan pengalaman saya ketika bertemu La Ode Alimin dari pulau buruh, Fandi dari Flores dan Sahrul dari Maluku Utara sangat penuh candaan dan tawa.

Saya pengen cerita kata La Ode Alimin ini tentang aktivitas literasi di pulau buruh dan teman saya yang gemar membaca. “Saya punya Komunitas Literasi di pulau buruh namanya Rumah Belajar Komunita (RBK) pulau buruh, gerakan litersi yang saya lakukan kurang lebih sama seperti Rumah Baca Komunitas (RBK) Jogja. dengan konsep peminjaman buku gratis namun selalu mengalami kendala karena setiap buku yang di pinjam sebagian tidak dikembalikan namun saya sangat memahami kondisi di sana karena keterbatasan buku-buku makanya saya tidak mempersoalkan ketika buku-buku itu tidak di kembalikan.

Tetapi budaya ini tidak bisa di contoh dan di biarkan karena para leluhur kita sudah mengajarkan bahwa barang orang orang adalah barang orang dan barang kita adalah barang kita”.

Saya kemudian menyangga dan mengguatkat, Iya bang saya juga mengakui budaya itu tidak baik. Namun tindakan sebenarnya bukan tidak berdasar hal itu terjadi karena buku-buku masih sangat mahal dan masih sulit dijangkau. saya juga dulu pernah menjadi korban kehilangan buku ketika menikmati kopi didepan kampus Hijau. maka sebagai solusi Literasi harus selalu didorong sampai ke pelosok Indonesia. Dan saya yakin buku yang di abil sudah pasti di baca karena buku-buku yang hilang adalah buku-buku yang sulit di jangkau.

Oh iya benar, dengan nada berenergi. Saya juga punya ceri soal Gemar membaca, tambah La Ode Alimin “Jadi dulu itu saya punya teman dan sangat gemar membaca terutama bacaan-bacaan kiri dan bahasanya yang sering dipakai dalam berinteraksi selalu ada akhiran (IS, Sasi dan Isme) di suatu pagi saya tengah bersiap-siap bergegak kekampus, teman saya menyapa dengan akrap Ode kamu sudah makannisasi ka.? tawa pun pecah wahaha.

Kemudian saya bilang nanti saja baru saya makanisasi karena saya belum laparnisasi. Oh iya saya lupa teman saya namanya Eko saya sering memangil dengan nama Ekonisasi. cerita inipun berakhir dengan tawa yang membuat sakit perut. karena tidak ada lagi pengunjung Kamipun bersiap untuk bergegas pulang, beginilah jadinya ketika bertemu dengan saudara-saudara dari Timur Indonesia penuh canda dan tawa.

Mungkin ada benarnya apa yang disampaikan oleh Milan Kundera seorang penulis sastra kelahiran Cekoslowakia yaang tidak asing lagi pagi pengemar sastra. bahwa seseorang tidak akan menemui perubahan sebelum ia menelanjangi dan menertawakan dirinya sendiri. ataupun Oleh George Orwell Setiap lelucon adalah sebuah revolusi kecil. Untuk alasan inilah setiap bertemu saudara-saudara dari Timur Indonesia harus selalu ada canda dan tawa karena kami sadar bahwa Indonesia Timur butuh perubahan.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup