Sumber foto: Dandhy Dwi Laksono

Ekosida dan Kedunguan Kita

Oleh: Ahmad Faizin Karimi
Penulis Buku, tinggal di Gresik

Relatif sulit bagi peneliti sosial mendapatkan ruang penelitian terkondisi seperti yang dimiliki peneliti di ruang laboratorium. Di laboratorium, bisa diciptakan kondisi yang memungkinkan variabel ‘pengganggu’ mempengaruhi hasil penelitian. Sedangkan secara sosial, ruang terisolir semacam itu bukan tempat yang mudah diwujudkan. Namun beberapa tempat secara alami bisa menjadi ruang terisolir, memungkinkan peneliti menyingkirkan faktor tertentu dan menemukan faktor utama.

Pulau Paskah adalah salah satunya. Pulau itu mungkin termasuk pulau paling terpencil yang dihuni manusia. Dari Chile, Pulau Paskah berjarak 3.500-an kilometer ke arah barat, sedangkan dari kepulauan Pitcairn Polinesia sekitar 2.000-an kilometer ke timur. Di tengah Samudra Pasifik dengan ombak besar, Jared Diamond dalam bukunya Collapse menggambarkan kehidupan di Pulau Paskah (dulu) bak laboratorium yang bisa memberi pemahaman seperti apa perilaku kita manusia.

Kedatangan manusia pertama di Pulau Paskah diperkirakan arkeolog Claudio Cristiano dan Patricia Vargas sekitar tahun 900 M. Tradisi lisan yang berkembang di antara warga menyebut penghuni pertamanya adalah datu yang disebut Hotu Matu’a (orang tua agung) yang menemukan pulau itu bersama beberapa orang keluarganya. Mereka kemudian berkembang menjadi beberapa koloni yang terpisah sampai pada periode puncak perkiraan tertinggi populasinya adalah 30 ribu jiwa. Menurut tradisi lisan juga yang diperkuat dengan studi arkeologi, populasi itu terbagi menjadi 11 atau 12 klan yang menghuni masing-masing teritori.

Singkat cerita, masing-masing klan berlomba membuat patung batu yang disebut Moai yang diletakkan pada pelataran yang disebut Ahu. Ahu terkecil saja beratnya 300 ton dan Ahu Tongariki yang terbesar sampai 9.000 ton. Sedangkan patungnya Moai rata-rata tingginya 4 meter, bahan patung dan pelatarannya itu terutama diambil dari tiga kawah bekas letusan gunung ratusan ribu tahun sebelumnya di pulau itu.

Karena beratnya, para peneliti pun masih kesulitan ketika mencoba menegakkan Moai dengan katrol. Lagu bagaimana penduduk Pulau Paskah dulu melakukannya? Bagaimana cara mereka membawa patung yang sudah dipahat di puncak gunung ke pelataran Ahu? Kemungkinan dengan membuat rel dari kayu. Kayu itu dibabat dari hutan yang ada di pulau itu.

Jor-joran membangun “infrastruktur” patung Moai dan Ahu juga membutuhkan banyak pekerja, mulai dari pemahat sampai kuli yang pembawa, dan semua tenaga itu perlu pasokan makanan. Jadilah Pulau Paskah sebagai arena perlombaan menuju kepunahan.

Pohon ditebangi untuk membawa bahan Moai dan Ahu, kulitnya dijadikan tali penarik. Akibat penebangan ekstrim, kesuburan tanah berkurang karena gizi tanah terbawa hujan ke laut. Menyebabkan krisis pangan yang pada akhirnya membuat sebagian penduduk pulau Paskah menjadi kanibal: memakan manusia. Habisnya hutan mengurangi drastis populasi hewan darat, akibatnya daging yang dimakan tinggal tikus-tikus saja. Sumber air tawar habis menyebabkan mereka krisis air minum juga.

Pembangunan infrastruktur Moai dan Ahu pun ditinggalkan, banyak yang dibiarkan terbengkalai. Penduduk Pulau Paskah masuk dalam periode kekacauan, kekuasaan datu dikudeta oleh pemimpin militer. Selain disebabkan penculikan oleh armada Chile yang mencari budak, penduduk Paskah menurun drastis akibat kematian, peperangan antar klan, dan penyakit. Mereka tidak bisa pergi dari pulau itu karena pohon sudah habis, tidak bisa lagi membuat Kano. Ekspedisi pelaut Eropa yang kemudian singgah di pulau itu perlahan membuat Pulau Paskah keluar dari periode isolasinya. Kini sudah ada penerbangan dari Chile, untuk membawa wisatawan mengunjungi reruntuhan peradaban Rapanui itu.

Apa pendapat anda terhadap perilaku penduduk Pulau Paskah yang menebangi hutan untuk jor-joran membuat patung? Sudah jelas bahwa sumber daya mereka minim, mengapa saling berkonflik antar klan yang sesungguhnya berasal dari keturunan yang sama? Mengapa mereka tidak fokus mengembangkan teknik pertanian untuk memproduksi makanan yang bisa mendukung populasi yang makin besar? Mengapa tidak fokus meningkatkan kemampuan menangkap ikan daripada memburu hewan darat?

Jika Anda berpikir penduduk dan pemimpin Pulau Paskah bodoh, gila atau dungu bukankah kita manusia modern juga berperilaku sama? Kita tahu bahwa sumber daya alam kita terbatas, sedangkan ledakan populasi manusia di bumi terjadi signifikan. Kita tahu bahwa kita berasal dari leluhur yang sama tapi mengapa terus berkonflik antar bangsa? Kita tahu bahwa—seperti Pulau Paskah yang terisolir jauh dari mana-mana—Bumi masih satu-satunya planet yang bisa kita huni, tapi kita dengan dungu pula merusaknya.

Kita dengan mudah melakukan alih fungsi lahan sehingga produksi pertanian makin merosot, memunculkan krisis pangan. Kita sangat konsumtif sehingga muncul krisis energi. Dan parahnya seperti penduduk Pulau Paskah, kita kurang mengalokasikan pikiran untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan untuk kelangsungan hidup yang lebih berkelanjutan.

Ini adalah bentuk Ekosida, bunuh diri lingkungan. Secara sadar kita tahu ke mana arah perilaku kita, tapi kita enggan mengubah perilaku tersebut. Jadi tolong jangan salahkan Tuhan jika bumi ini nantinya jadi seperti Pulau Paskah, dan akhirnya manusia hanya bisa berharap makhluk luar angkasa datang menyelamatkan kita.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup