Saya pribadi sebetulnya memiliki keinginan menulis dan tidak ingin menulis pada saat yang bersamaan. Disisi lain betapa memang banyak pikiran yang harus dituangkan (laiknya manusia berakal pada umumnya). Tetapi bagaimana cara dan sulitnya menuangkan ide untuk dituliskan itulah yang membuat menulis menjadi semacam tembok menjulang yang berisikan  gagasan-gagasan yang mengendap yang tak pernah mengemuka dan sulit dijebol.

Kali ini saya mencoba mengalirkan gagasan kecil itu kedalam untaian beberapa kalimat, selain agar supaya terbiasa saya rasa hal semacam ini pula yang nantinya akan menumbuhkan kesadaran atau kepekaan terhadap apa yang (minimal) menjadi tanggung jawab kita bersama. Termasuk diantaranya adalah menumbuhkan sensitivitas dalam memahami lingkungan dan ekosistem alam atau dalam kajian keilmuan lebih dikenal dengan ekologi.

Lingkungan sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasruddin Anshori dan Sudarsono dalam buku Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa adalah suatu sistem kompleks yang berada diluar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia lingkungan sendiri sebenarnya adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Akhir-akhir ini isu lingkungan memang memantik perhatian besar baik dikalangan lembaga masyarakat maupun kalangan akademisi. Mulai dari eksploitasi, pembuangan limbah pabrik, pencemaran air laut menjadi bagian dari topik yang terus dikritik dan dilawan maupun digaungkan terus-menerus agar paling tidak kesadaran akan tatanan ekosistem yang baik tetap dijaga. Karena semua hal itu dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang berakibat pada kesetimbangan global. Bahkan tak jarang dalam beberapa kasus yang bertendensi pengrusakan lingkungan mendapat perlawanan dari masyarakat yang merasa hak akan kesuburan tanahnya di ekploitasi. Dan dalam mempertahankan haknya itu nyawa menjadi taruhan.

Beberapa film dokumenter yang berlatarbelakang ekosistem lingkungan atau ekologi seperti Seaspiracy dan Kinipan disajikan untuk menelaah lebih jauh seberapa kini alam sedang tidak diperlakukan dengan baik. Banyak masyarakat yang menjadi korban atas eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan itu.

Sebaliknya, bahwa agama dan kehidupan atau Islam dan alam secara spesifik, keduanya memiliki integrasi yang kompleks dan fundamental. Ketika moralitas kemanusiaan yang berprinsip pada agama abai terhadap ekosistem alam, bukan tak mungkin kontinuitas makhluk hidup dimuka bumi sedikit demi sedikit akan mengalami disfungsi yang menyebabkan kerusakan alam itu sendiri, sehingga dampaknya akan mengancam kita semua.

Maka dari itu semua kamu dan semua kita dan juga setiap elemen masyarakat, memiliki peranan dan tanggung jawab yang sama untuk menjaga dan memperbarui kelestarian alam, terlebih lagi lingkungan yang ada di sekitar kita.

Dalam pada itu selama ini menurut saya kajian keagamaan terlalu menitikberatkan persoalan agama hanya pada relasi ketuhanan dan kemanusiaan. Saya tidak mengatakan keduanya tidak penting bahkan itu sangat penting. Tetapi merawat alam adalah juga bagian dari ekspresi berketuhanan karena Tuhan menciptakan (create) alam dan manusia dititahkan untuk menjaga dan merawatnya  dan juga (merawat alam) adalah bagian dari berkemanusiaan karena alam dan kelestariannya itu sangat berpengaruh bagi aktifitas kehidupan manusia. Dan menjaga alam adalah menjaga manusia itu sendiri, karena manusia adalah bagian darinya.

Kajian ke Al-Quran nan sendiri begitu banyak menyinggung isu-isu ekologi baik itu dalam rangka wasilah untuk mengenal Tuhan lebih dekat ataupun untuk mengenalkan pada manusia bahwa ia (manusia) di bumi tidak hidup sendirian. Betapa dalam menjaga konsistensi keimanannya pada Tuhan, manusia harus mampu berakhlak baik. baik berakhlak pada manusia maupun berakhlak pada alam yang kita huni.

(Al-Quran) Selain fungsinya sebagai petunjuk (hudan li annas) penjelasan (bayyinah) dan pembeda (furqan). Sebagimana yang disampaikan dalam Alquran dia juga banyak menyinggung keterkaitan antara manusia dan ekosistem alam diantaranya ialah surah Al A’raf (7:56) yang berbunyi, “dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya Rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.

Pengrusakan adalah bagian dari melampaui batas begitu kata Prof. Dr. Quraish Shihab. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa, alam raya ini telah diciptakan Allah SWT dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya baik, bahkan memerintahkan hamba-hambaNya untuk memperbaikinya. (Tafsir Al-Misbah)

Perintah Tuhan untuk senantiasa menjaga keseimbangan ekosistem alam selaras dengan kenyataan bahwa kerusakan lingkungan justru terjadi akibat sebagian tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan mengedepankan nafsu keserakahan, kekuasaan dan kepentingan. artinya untuk menanggulangi itu semua tentulah dibutuhkan tandingan tangan-tangan yang senantiasa melebur diri dengan alam dan lingkungan dalam rangka membela bumi agar fungsi dan keberadaannya bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar dan manusia pada umumnya. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah melalui firman-Nya, ” telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ( ke jalan yang benar).” (Q.S 30:41)

Kerusakan (fasad) seperti yang tengah dikemukakan oleh Dr. Wahbah Az Zuhaili Dalam tafsir Al-Manar ia menjelaskan bahwasannya fasad artinya adalah suatu kondisi kacau dan rusak seperti kekeringan, paceklik, minimnya tetumbuhan. Banyaknya kejadian kebakaran, banjir,  berkurangnya kemanfaatan dan kebaikan. Hal ini dipicu oleh ketidaktahuan atau keimanan yang sifatnya masih setengah-setengah sehingga mengabaikan hal yang menurutnya luput dari perhatian agama. Padahal tidak, dikala Al Qur’an dengan tegas memerintahkan untuk mengelola alam dengan baik dan melarang untuk merusaknya, sayangnya tidak semua manusia memperhatikannya. Mereka berkedip (acuh tak acuh) atas itu semua.

Refleksi judul diatas saya asumsikan sedemikian perhatian Tuhan pada tempat tinggal manusia yang di tinggalinya, guna bisa menopang kehidupannya dengan nyaman dan aman, sehingga tidak hanya melihat tetapi melirik dan memperhatikan. Tetapi kebanyakan manusia berkedip dan bahkan menutup mata dari hal-hal yang dapat merusak keseimbangan dan kenyamanan tempat tinggalnya

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link